“Once Again – Agency in Cinema”: Activism and the Pleasure Within
This article is a reportage piece for ARKIPEL Social/Capital – 5th Jakarta International Documentary & Experimental Film Festival (2016) and was published on 19 August 2016.
The Indonesian version of
this article can be found at the end of this article.
An archived version of the article is available at:
Political struggle needs not only
a meaningful struggle but also pleasure. In long time period of political
struggle, pleasure or joyeux not only reflects personal decision but
also faith upon the issues we fight for.
Ruth Noack in Festival Forum of
ARKIPEL social/kapital – 4th Jakarta International Documentary &
Experimental Film Festival held in Thursday, August 18th 2016 in Goethe
Institute Jakarta explained it in her speech by title Once Again – Agency in
Cinema. Her speech was started with a picture of two women doing some kind
of activities around the trunk of a tree. On the upper part of the picture,
there was a writing ‘1831’ and in the lower part was a writing ‘CAMOUFLAGE’.
This author, art critic, lecturer and exhibitor from Germany explained the
urgency of agency in cinema. According to Ruth Noack, agency means that an
individual or a group has the capability to engage actively with the social
sphere and have some influence on its forms and contents.
In the occasion opened and
moderated by Hafiz Rancajale, the founder of Forum Lenteng as well as Artistic
Director of ARKIPEL, it was explained by Ruth that agency was very personal but
also very political. It came from something we believed in personally and often
emancipatory. It cannot be separated from the social life that goes on around
it. In this sense, the influence of power relation toward personal life becomes
a good source for the emersion of agency. According to Ruth, pleasure that
comes from this kind of struggle toward personal faith is an important matter
within agency.
In cinema, the filmmakers and
critics achieve their agency through their resistance toward mainstream film
industry since the end of 1960s. Through that resistance, they produce not only
works but also the self. Thus the agency cannot be separated from political
struggle. Talking about such matters, Ruth Noack presented us some footages
related to agency in cinema, particularly related to women emancipation. Ruth
herself is a feminist who achieved her agency through the struggle for women’s
rights.
I couldn’t help to giggle and
thinking at the same time when I watched the footages from Numero Deux
in Ruth’s presentation. Even pictures were manufactured and messages might be
invested deliberately in them, politically or not. Agency is an urgent matter
so that an individual or a group can be freed from vulnerability and fright
upon external power that might limit one’s contemporaneity. Film through its
visual power can create activation toward minds. This means that while
producing works, the filmmaker can produce the self and also braiding social
changes wanted.
The discussion was attended by
KOMPAS and 42 participants from various film activists’ community. It was held
solemnly despite of the sounds made by some late participants. Some foreign
curators invited by ARKIPEL 2016 also joined the first session of this Festival
Forum. In comment session, Manshur Zikri from Forum Lenteng and daily organizer
of AKUMASSA said that activism in Indonesia was still stumbled upon the binding
social norms, especially when it comes to women emancipation issues. The
awareness toward activism to fight for political purpose or cultural identity
has not reached a point as mentioned in the earlier presentation by Ruth,
particularly in the context of the visual arts (and cinema). In Indonesia,
cinema activism seems still merely a need to fight or to compete or to counter
the mainstream power. Due to the lack of awareness on what was exemplified by
Noack then demanded an alternative strategy, but it still remained on a track
that also fought for political interests. That was, among others, pursued and
encouraged by the Forum Lenteng through AKUMASSA.
Continuing this comment, Ruth
emphasized that repression has various kind of forms and it can be very
complex. Thus in the same time, we need to keep struggling even though
inevitably we also keep forgetting.
As told by Ruth, agency needs to
change something in society and this requires activation, at least the
activation of mind. And this is what Forum Lenteng does through ARKIPEL,
especially Festival Forum.*
“Once Again – Agency in Cinema”
Aktivisme dan Kesenangan di
Dalamnya
Perlawanan politik membutuhkan tak
hanya perjuangan yang bermakna, tetapi juga kesenangan. Dalam perjuangan
politik yang memakan waktu lama, kesenangan atau joyeux tak hanya
merefleksikan keputusan pribadi, tetapi juga keyakinan atas isu yang tengah
diperjuangkan.
Ruth Noack dalam Festival Forum
ARKIPEL social/kapital – 4th Jakarta International Documentary &
Experimental Film Festival yang dihelat pada Kamis, 18 Agustus 2016 di
Goethe Institute Jakarta memaparkan pidatonya yang bertajuk Once Again –
Agency in Cinema. Pidatonya dimulai dengan sebuah gambar dua orang
perempuan yang tengah beraktivitas di seputar batang pohon. Di bagian atas
gambar tertulis angka ‘1831’ dan di bagian bawahnya tertulis ‘CAMOUFLAGE’.
Penulis, kritikus seni, dosen serta ekshibitor asal Jerman ini kemudian
memaparkan tentang urgensi agensi dalam sinema. Menurut Noack, agensi berarti
bahwa seorang individu atau kelompok memiliki kemampuan untuk terlibat secara
aktif dengan lingkungan sosial dan mempunyai pengaruh terhadap bentuk maupun muatan
dari kondisi sosial tersebut.
Dalam acara yang dibuka dan
dimoderatori oleh Hafiz Rancajale pendiri Forum Lenteng sekaligus Direktur
Artistik ARKIPEL, diungkapkan oleh Ruth bahwa agensi merupakan hal yang sangat
personal, namun di sisi lain juga sangat politis. Ia lahir dari sesuatu yang
kita percayai secara pribadi dan seringnya bersifat emansipatif karena ia tak
bisa lepas dari kondisi sosial di sekitar. Dalam hal ini, relasi kuasa yang
berpengaruh terhadap keseharian kita bisa menjadi sumber munculnya agensi.
Kesenangan yang lahir dari perjuangan atas keyakinan pribadi inilah yang
menurut Noack menjadi faktor penting dalam agensi.
Dalam sinema, para pembuat filem
dan kritikus filem meraih agensinya melalui perlawanan terhadap industri filem
arus utama sejak akhir tahun 1960-an. Melalui perlawanan tersebut, para pembuat
filem dan kritikus ini tak hanya memproduksi karya, tetapi juga memproduksi
identitas dirinya sendiri. Suatu aktivisme yang dibarengi oleh kesenangan
berkarya. Dengan kata lain, agensi memang sebetulnya tak bisa dilepaskan dari
perjuangan politik yang personal. Membahas hal ini lebih jauh, Ruth memutarkan
sejumlah cuplikan filem tentang agensi dalam sinema, terutama terkait
emansipasi perempuan. Noack sendiri mengaku sebagai seorang feminis yang meraih
agensinya melalui perjuangan hak kaum perempuan.
Saya pun tak kuasa menahan kikik
selagi berpikir ketika menonton cuplikan filem dari Noack yang berjudul Numero
Deux. Tak pelak, gambar pun memiliki sebuah proses produksi di mana mau tak
mau di dalamnya ada pesan yang terinvestasi baik secara politis maupun tidak.
Agensi pun menjadi penting agar seseorang atau suatu kelompok dapat terlepas
dari rasa rapuh dan ketakutan akan kekuatan eksternal yang dapat membatasi
kesezamanannya. Filem melalui kekuatan visualnya pun mampu menjadi karya yang
mengaktivasi pikiran. Yang artinya, selagi berkarya dan memproduksi identitas
diri, seorang pembuat filem pun dapat pula menganyam perubahan sosial yang ia
inginkan.
Diskusi yang dihadiri oleh KOMPAS
dan 42 peserta dari berbagai komunitas pegiat filem ini berjalan khidmat
terlepas dari kasak-kusuk peserta yang terlambat datang. Beberapa kurator
internasional yang menjadi tamu undangan pun turut menghadiri sesi pertama
Festival Forum ini. Pada sesi tanya jawab, Manshur Zikri dari Forum Lenteng dan
pengurus harian AKUMASSA memaparkan bahwa aktivisme pada masyarakat Indonesia
kerap kali terbentur norma-norma sosial yang mengikat, terutama terkait agama
dan emansipasi perempuan. Kesadaran akan aktivisme untuk memperjuangkan
kepentingan politik atau identitas kultural belum mencapai suatu titik seperti
yang dilakukan pada contoh Noack tadi, terutama dalam konteks seni visual. Di
Indonesia, aktivisme sinema tampaknya masih sekadar berada pada tahap kebutuhan
melawan atau menandingi kekuatan arus utama. Kurangnya kesadaran atas apa yang
dicontohkan Noack tersebut, kemudian menuntut strategi lain namun tetap pada
jalur yang juga memperjuangkan kepentingan-kepentingan politis. Itu juga, salah
satunya, yang dilakukan Forum Lenteng melalui AKUMASSA.
Menyambung komentar ini, Ruth
menekankan bahwa represi memiliki beragam bentuk dan bisa jadi sangat kompleks.
Sehingga pada saat yang sama, kita harus terus berjuang meskipun berbarengan
dengan itu kita pun tak bisa untuk tak terus melupakan.
Sejalan yang disampaikan oleh
Ruth, agensi perlu mengubah sesuatu dalam masyarakat dan hal ini membutuhkan
adanya aktivasi, sekurang-kurangnya aktivasi pikiran. Sebagaimana yang tengah
dilaksanakan Forum Lenteng melalui ARKIPEL dan khususnya Festival Forum.*